Hallooo perkenalkan saya fhu....

Senin, 19 Agustus 2013

Cerpen Baru : 200 Ribu Ali


“Mak, sandainya engkau masih hidup, mungkin nasib anakmu ini tidak seburuk ini mak. Ali sudah capek hidup terlantar mak,...”adu seseorang yang berpakaian lusuh, kotor di depan makam yang tidakterwat. Pakaiannya menandakan dia bukanlah orang yang biasa. Ya, dia adalah orang yang kurang mampu dan hidup hanya di bawah kardus-kardus yang ia dapatkan ditepi jalan dan tong sampah.
          Hari itu,sehari setelah ia ziarah pemakaman ibunya,yang tak pernah ia tahu bagaimana bentuk dan rupa ibunya itu. Ia hanya tahu berdasarkan cerita kerabat dan tetangganya dahulu. Sekarang dia sudah tidak lagi tinggal di rumah yang nyaman, bahkan untuk makan saja harus bekerja dahulu.
          Ia selalu ingat akan pesan guru ngajinya dulu, walaupun hidup sesusah apapun pastilah Allah membantunya. Allah itu tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan dari kita. Nasehat ini selalu diingatnya betul, sehingga dia tidak pernah mencuri, apalagi mengemis. Baginya mengemis itu sangat rendah, dia tak pernah berpikir untuk mengemis. Daripada mengemis, dia lebih baik mencuri, itu sedikit ada usahanya.
          Pernah saat dia sedang istirahat di bawah pelataran toko yang sedang tutup, dia diberi uang oleh orang yang lewat. Tapi uang itu di antarnya kembali dan berterimakasih kepada orang itu karena telah ikhlas memberi walaupun tidak diminta. Tetapi dia juga memarahi orang itu karena pengemis seharusnya tidak diberi uang dengan cara yang begitu.
          Pagi ini suhu kota sangat dingin. Pemuda yang bernama Ali itu batuk-batuk dan tandanya penyakitnya kambuh lagi. Dia menderita penyakit batuk-batuk sejak lama, tapi apalah daya dia tidak pernah berobat. Dia berniat untuk mengumpulkan uang terlebih dahulu agar bisa berobat di Puskesmas ataupun di klinik, tapi jangankan terkumpul uang itu malahan habiskarena keperluan lain seperti uang sewa  tempat tinggalnya.
          “Ya Allah, ampunilah dosa hambamu ini,dan dosa kedua orangtua hamba ....”Pintanya selalu sehabis menunaikan ibadah solat,entah di mesjid atau di pinggir jalan selalu dia solat jika waktunya telah masuk.
          “Bocah-bocah, gak sadar apa! Udah hidupnya ngemis begitu, sok-sok meminta yang bukan-bukan...”
          “Bapak kenapa selalu meledek saya, saya tidak pernah ngemis pak. Bapakkan selalu saya larang ngemis, tapi masih saja tak mau kan? Edan emang bapak...”
          “Alah, kamu... Kayak mana anu, uang yang kamu simpan? Sudah segunung? Hahahaha....”
          “Halah-halah, bapak kenapa tak henti-hentinya ngeledek saya ha..... baru 78 ribu pak, kemaren itu aku tanya sama perawat di puskesmas, harga obat aku itu 190 ribu pak. Masih banyak kurangnya.”
          “Aku ada sedikit nih, 30 ribu aja tapi. Ini lebih uang kemaren ngemis di simpang empat jalan pattimura sana. Ambil nih,”
          “Gak mau ah pak, uang ngemis bapak kan? Udahlah untuk bapak aja. Saya gak mau makan uang ngemis pak, bapak kan udah tahu saya anti sama kerjaan bapak. Masih aja nawari saya. Oh iya pak, saya mau nyuci piring di rumah makan padang yang di depan, saya pergi dulu ya...”
          “Ya udah, pergi aja lah, gak usah pamitan segala. Kayak benar aja...”cemooh orang yang dipanggil Ali bapak itu, beranjak juga dari tempat persitirahatannya hendak bergegas meraup untung dari para pemberi nafkah di jalanan.
          Ali mulai berjalan menuju tempat dia bekerja, walaupun hanya sebatas pencuci piring rumah makan dadakan. Dia bekerja kalau dipanggil saja. Itupun seminggu paling banyak tiga kali kerja disana. Dengan upah sebesar dua puluh ribu seharian, memang tidak begitu banyak untuk menyimpan uang.
          Di pinggir jalan yang sering dia lalui, ada rumah kecil dipagari kayu dan bambu, dia tidak pernah melihat siapa yang tinggal di dalam sana. Dulu dua tahun yang lalu dia pernah melihat anak kecil yang lumpuh yang duduk di kursi roda sendirian. Anak itu kena sinar matahari, kulitnya memerah. Karena iba Ali mendorong anak itu masuk ke rumah dan memanggil ibunya. Bukan ibunya yang keluar, tapi seorang laki-laki tua yang marah besar.
          “Dia nakal, dia ngompol di kasur saya. Ngapai kamu bawak dia ke dalam. Itu bukan urusan kamu, dasar pengemis tidak tahu diri! Pergi sana!”hardiknya pada Ali waktu itu. “Tapi pak, dia kasihan, liat tu mukanya merah. Dia kenapa pak?”basa-basiku sebelum meninggalkan rumah itu.
          “Dia, cucuku. Kamu gak ada urusan sama dia. Dia cuman lumpuh. Gak perlu dikasihani,...”
          Semenjak hari itu dia tidak pernah lagi masuk dan melihat bapak dengan cucunya yang lumpuh itu. Tapi terkadang di malam hari, dia sesekali pernah juga melihat dari luar orang di dlam sana.
          Walaupun hidup sendiri, tapi penghasilan tetap saja tidak cukup. Jangankan untuk beli obat yang telah lama ia inginkan, untuk melengkapi kebutuhan makannya saja sudah pas-pasan. Terlebih lagi adanya preman yang mintak uang keamanan karena tinggal di daerah mereka. Memprihatinkan memang, tapi mau bagaimana lagi memang begitulah hidup.
          Dua bulan berlalu, uang yang terkumpul sudah dua ratus ribu. Udah berlebih untuk beli obatnya. Uang itu dia kumpulkan sampai-sampai dia tidak makan dua hari. Tapi dia senang karena uang itu telah cukup. Besok dia akan membeli obat sebagaimana yang dokter sarankan padanya.
          Malam itu sangat dingin, seperti biasanya jika dingin dia akan batuk dan nafasnya sesak. Hujan deras mengguyur kota. Rumah kardusnya itu lembab, walau tidak sampai basah. Dia terus mengucapkan istighfar dan mencoba tenang. Angin-angin yang datang di malam hari membawa suhu dingin yang menusuk ke tulang. Sementara itu di malam itu kesibukan kota yang merajalela tidak terhenti karena hujan dan badai.
          Dengan lebatnya hujan, semakin gelap juga pandangan mata Ali. Dzikir tak henti-hentinya dia ucapkan. Tiba-tiba terbayang di benaknya wajah ibunya, walaupun tidak tahu persis seperti apa rupanya. Dia teringat kalau tetangganya bilang kalau dia masih punya nenek di kampung. Tapi dia sendiri tidak pernah tahu dari mana asalnya dan dimana kampungnya itu.
          Petir mulai menyambar, angin segera berhenti dan hujan bertambah deras. Lalu mata Ali yang hitam itu tertutup dan dia tidak sadar lagi. Esoknya dia bangun, di tangannya masih ada uang dua ratus ribu yang akan dia belikan obat. Tapi dia baru sadar kalau ternyata rumah kardusnya telah hancur dilenyap badai semalam. Dia tidak tahu dan mungkin dia tertidur pulas saat itu.
          “Kamu nak Ali kan?”
          “Iya, kenapa mas?”
          “Anu, saya Jali. Sepertinya kamu kenal sama bapak-bapak yang tinggal di rumah dekat bank sana, yang pagarnya bambu itu. Tadi anaknya sakit lagi, dia nyuruh saya manggil kamu. Udah ya saya pamit dulu...”
          “Oh, ya ya mas, makasi ya mas”
          “Cepetan kesana, ditungguin...”
          “Iya, saya kesana,”
          Ali heran, kenapa bapak itu minta dia datang kerumahnya dan anaknya sakit? Apa hubungannya dengan dia? Ali semakin bingung. “Entahlah.... Mungkin ini panggilan untuk saya,”
Pagi itu memang hari yang cerah, juga baik untuk menolong, begitu pikiran Ali yang selalu berprasangka baik.
          “permisi pak, ada apa ya pak?”
          “kamu yang datang kenari tempo lalu kan?”
          “Iya, memangnya kenapa? Saya ada salah?”
          “Tidak-tidak, saya kan sudah tua. Saya tidak punya keluarga selain anak penyakitan ini, saya besok mau cabut aja dari sini. Saya ingin kamu ambil aja ni anak lumpuh. Mau kan?”
          “Loh, kenapa begitu pak? Dia kan anak bapak. Kenapa ditinggal? Sebetulnya bapak mau keman?”
          “Saya mau pergi ke neraka, hahaha.... saya mau mati saja! Hidup seperti ini tidak enak. Besok saya mau pergi, bawalah anak lumpuh ini. besok pemilik rumah ini akan menagih uang kontrakan, sebelum dia datang saya dan anak lumpuh ini harus tidak disini lagi. Biar gratis gitu,”
          “Saya gak mau lah pak. Lagian ngapain pakai mau bunuh diri? Apa gak kasian sama ni anak.”
          “Udahlah. Saya pergi dulu, ini bawak dia tersrah mau kemana, mau dibunuh juga gak apa-apa.”
          “Tega sekali bapak! Saya tidak mau membawa anak lumpuh ini!”
          “Ya sudah, biar saja dia tinggal disini, biar mati aja dia disini,”
          “Pak, bapak punya parang di belakang pak? Boleh saya pinjam sebentar?”
          “Ada, ambil saja. Untuk apa?”
          “Ambilkan saja ya pak, sebentar saja.”
          Bapak itu pergi kebelakang dan mengambil parang. Sementara itu Ali mendekati anak yang lumpuh itu. Menatapnya dalam-dalam. Lalu membisikkan di telinganya, “kamu anak yang malang...”. tangannya yang berbulu itu melingkar di leher anak itu dan tangannya mulai mencekik hingga anak malang itu tidak bisa bernafas dan akhirnya mati.
          “Ini parangnya,...”
          “Gunanya untuk ini pak,”
          Ali memukulkan parang itu ke kepala Bapak itu, dan sebentar saja bapak itu pingsan dan mati juga. Entah apa yang ada di benak ali saat itu. Tiba-tiba dia tega membunnuh, padahal dia pernah bepikiran seperti itu sebelumnya.
          Takut akan perbuatannya itu, Ali mencari tali dan menggantung tubuhnya yang lusuh. Diapun tewas seketika. Wajahnya yang pucat karena tidak makan terlihat semakin pucat karena tubuhnya kini tidak lagi mengalir darah. Tiga mayat itu mati hampir bersamaan. Roh Ali telah pergi meninggalkan jasadnya menuju alam yang berbeda. Uang yang hendak dibelikannya obat itu jatuh dari sakunya, dua lembar uang seratus ribu itu jatuh melayang dan jatuh di bawah kakinya.

Cerpen Baru : 200 Ribu Ali



“Mak, sandainya engkau masih hidup, mungkin nasib anakmu ini tidak seburuk ini mak. Ali sudah capek hidup terlantar mak,...”adu seseorang yang berpakaian lusuh, kotor di depan makam yang tidakterwat. Pakaiannya menandakan dia bukanlah orang yang biasa. Ya, dia adalah orang yang kurang mampu dan hidup hanya di bawah kardus-kardus yang ia dapatkan ditepi jalan dan tong sampah.
          Hari itu,sehari setelah ia ziarah pemakaman ibunya,yang tak pernah ia tahu bagaimana bentuk dan rupa ibunya itu. Ia hanya tahu berdasarkan cerita kerabat dan tetangganya dahulu. Sekarang dia sudah tidak lagi tinggal di rumah yang nyaman, bahkan untuk makan saja harus bekerja dahulu.
          Ia selalu ingat akan pesan guru ngajinya dulu, walaupun hidup sesusah apapun pastilah Allah membantunya. Allah itu tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan dari kita. Nasehat ini selalu diingatnya betul, sehingga dia tidak pernah mencuri, apalagi mengemis. Baginya mengemis itu sangat rendah, dia tak pernah berpikir untuk mengemis. Daripada mengemis, dia lebih baik mencuri, itu sedikit ada usahanya.
          Pernah saat dia sedang istirahat di bawah pelataran toko yang sedang tutup, dia diberi uang oleh orang yang lewat. Tapi uang itu di antarnya kembali dan berterimakasih kepada orang itu karena telah ikhlas memberi walaupun tidak diminta. Tetapi dia juga memarahi orang itu karena pengemis seharusnya tidak diberi uang dengan cara yang begitu.
          Pagi ini suhu kota sangat dingin. Pemuda yang bernama Ali itu batuk-batuk dan tandanya penyakitnya kambuh lagi. Dia menderita penyakit batuk-batuk sejak lama, tapi apalah daya dia tidak pernah berobat. Dia berniat untuk mengumpulkan uang terlebih dahulu agar bisa berobat di Puskesmas ataupun di klinik, tapi jangankan terkumpul uang itu malahan habiskarena keperluan lain seperti uang sewa  tempat tinggalnya.
          “Ya Allah, ampunilah dosa hambamu ini,dan dosa kedua orangtua hamba ....”Pintanya selalu sehabis menunaikan ibadah solat,entah di mesjid atau di pinggir jalan selalu dia solat jika waktunya telah masuk.
          “Bocah-bocah, gak sadar apa! Udah hidupnya ngemis begitu, sok-sok meminta yang bukan-bukan...”
          “Bapak kenapa selalu meledek saya, saya tidak pernah ngemis pak. Bapakkan selalu saya larang ngemis, tapi masih saja tak mau kan? Edan emang bapak...”
          “Alah, kamu... Kayak mana anu, uang yang kamu simpan? Sudah segunung? Hahahaha....”
          “Halah-halah, bapak kenapa tak henti-hentinya ngeledek saya ha..... baru 78 ribu pak, kemaren itu aku tanya sama perawat di puskesmas, harga obat aku itu 190 ribu pak. Masih banyak kurangnya.”
          “Aku ada sedikit nih, 30 ribu aja tapi. Ini lebih uang kemaren ngemis di simpang empat jalan pattimura sana. Ambil nih,”
          “Gak mau ah pak, uang ngemis bapak kan? Udahlah untuk bapak aja. Saya gak mau makan uang ngemis pak, bapak kan udah tahu saya anti sama kerjaan bapak. Masih aja nawari saya. Oh iya pak, saya mau nyuci piring di rumah makan padang yang di depan, saya pergi dulu ya...”
          “Ya udah, pergi aja lah, gak usah pamitan segala. Kayak benar aja...”cemooh orang yang dipanggil Ali bapak itu, beranjak juga dari tempat persitirahatannya hendak bergegas meraup untung dari para pemberi nafkah di jalanan.
          Ali mulai berjalan menuju tempat dia bekerja, walaupun hanya sebatas pencuci piring rumah makan dadakan. Dia bekerja kalau dipanggil saja. Itupun seminggu paling banyak tiga kali kerja disana. Dengan upah sebesar dua puluh ribu seharian, memang tidak begitu banyak untuk menyimpan uang.
          Di pinggir jalan yang sering dia lalui, ada rumah kecil dipagari kayu dan bambu, dia tidak pernah melihat siapa yang tinggal di dalam sana. Dulu dua tahun yang lalu dia pernah melihat anak kecil yang lumpuh yang duduk di kursi roda sendirian. Anak itu kena sinar matahari, kulitnya memerah. Karena iba Ali mendorong anak itu masuk ke rumah dan memanggil ibunya. Bukan ibunya yang keluar, tapi seorang laki-laki tua yang marah besar.
          “Dia nakal, dia ngompol di kasur saya. Ngapai kamu bawak dia ke dalam. Itu bukan urusan kamu, dasar pengemis tidak tahu diri! Pergi sana!”hardiknya pada Ali waktu itu. “Tapi pak, dia kasihan, liat tu mukanya merah. Dia kenapa pak?”basa-basiku sebelum meninggalkan rumah itu.
          “Dia, cucuku. Kamu gak ada urusan sama dia. Dia cuman lumpuh. Gak perlu dikasihani,...”
          Semenjak hari itu dia tidak pernah lagi masuk dan melihat bapak dengan cucunya yang lumpuh itu. Tapi terkadang di malam hari, dia sesekali pernah juga melihat dari luar orang di dlam sana.
          Walaupun hidup sendiri, tapi penghasilan tetap saja tidak cukup. Jangankan untuk beli obat yang telah lama ia inginkan, untuk melengkapi kebutuhan makannya saja sudah pas-pasan. Terlebih lagi adanya preman yang mintak uang keamanan karena tinggal di daerah mereka. Memprihatinkan memang, tapi mau bagaimana lagi memang begitulah hidup.
          Dua bulan berlalu, uang yang terkumpul sudah dua ratus ribu. Udah berlebih untuk beli obatnya. Uang itu dia kumpulkan sampai-sampai dia tidak makan dua hari. Tapi dia senang karena uang itu telah cukup. Besok dia akan membeli obat sebagaimana yang dokter sarankan padanya.
          Malam itu sangat dingin, seperti biasanya jika dingin dia akan batuk dan nafasnya sesak. Hujan deras mengguyur kota. Rumah kardusnya itu lembab, walau tidak sampai basah. Dia terus mengucapkan istighfar dan mencoba tenang. Angin-angin yang datang di malam hari membawa suhu dingin yang menusuk ke tulang. Sementara itu di malam itu kesibukan kota yang merajalela tidak terhenti karena hujan dan badai.
          Dengan lebatnya hujan, semakin gelap juga pandangan mata Ali. Dzikir tak henti-hentinya dia ucapkan. Tiba-tiba terbayang di benaknya wajah ibunya, walaupun tidak tahu persis seperti apa rupanya. Dia teringat kalau tetangganya bilang kalau dia masih punya nenek di kampung. Tapi dia sendiri tidak pernah tahu dari mana asalnya dan dimana kampungnya itu.
          Petir mulai menyambar, angin segera berhenti dan hujan bertambah deras. Lalu mata Ali yang hitam itu tertutup dan dia tidak sadar lagi. Esoknya dia bangun, di tangannya masih ada uang dua ratus ribu yang akan dia belikan obat. Tapi dia baru sadar kalau ternyata rumah kardusnya telah hancur dilenyap badai semalam. Dia tidak tahu dan mungkin dia tertidur pulas saat itu.
          “Kamu nak Ali kan?”
          “Iya, kenapa mas?”
          “Anu, saya Jali. Sepertinya kamu kenal sama bapak-bapak yang tinggal di rumah dekat bank sana, yang pagarnya bambu itu. Tadi anaknya sakit lagi, dia nyuruh saya manggil kamu. Udah ya saya pamit dulu...”
          “Oh, ya ya mas, makasi ya mas”
          “Cepetan kesana, ditungguin...”
          “Iya, saya kesana,”
          Ali heran, kenapa bapak itu minta dia datang kerumahnya dan anaknya sakit? Apa hubungannya dengan dia? Ali semakin bingung. “Entahlah.... Mungkin ini panggilan untuk saya,”
Pagi itu memang hari yang cerah, juga baik untuk menolong, begitu pikiran Ali yang selalu berprasangka baik.
          “permisi pak, ada apa ya pak?”
          “kamu yang datang kenari tempo lalu kan?”
          “Iya, memangnya kenapa? Saya ada salah?”
          “Tidak-tidak, saya kan sudah tua. Saya tidak punya keluarga selain anak penyakitan ini, saya besok mau cabut aja dari sini. Saya ingin kamu ambil aja ni anak lumpuh. Mau kan?”
          “Loh, kenapa begitu pak? Dia kan anak bapak. Kenapa ditinggal? Sebetulnya bapak mau keman?”
          “Saya mau pergi ke neraka, hahaha.... saya mau mati saja! Hidup seperti ini tidak enak. Besok saya mau pergi, bawalah anak lumpuh ini. besok pemilik rumah ini akan menagih uang kontrakan, sebelum dia datang saya dan anak lumpuh ini harus tidak disini lagi. Biar gratis gitu,”
          “Saya gak mau lah pak. Lagian ngapain pakai mau bunuh diri? Apa gak kasian sama ni anak.”
          “Udahlah. Saya pergi dulu, ini bawak dia tersrah mau kemana, mau dibunuh juga gak apa-apa.”
          “Tega sekali bapak! Saya tidak mau membawa anak lumpuh ini!”
          “Ya sudah, biar saja dia tinggal disini, biar mati aja dia disini,”
          “Pak, bapak punya parang di belakang pak? Boleh saya pinjam sebentar?”
          “Ada, ambil saja. Untuk apa?”
          “Ambilkan saja ya pak, sebentar saja.”
          Bapak itu pergi kebelakang dan mengambil parang. Sementara itu Ali mendekati anak yang lumpuh itu. Menatapnya dalam-dalam. Lalu membisikkan di telinganya, “kamu anak yang malang...”. tangannya yang berbulu itu melingkar di leher anak itu dan tangannya mulai mencekik hingga anak malang itu tidak bisa bernafas dan akhirnya mati.
          “Ini parangnya,...”
          “Gunanya untuk ini pak,”
          Ali memukulkan parang itu ke kepala Bapak itu, dan sebentar saja bapak itu pingsan dan mati juga. Entah apa yang ada di benak ali saat itu. Tiba-tiba dia tega membunnuh, padahal dia pernah bepikiran seperti itu sebelumnya.
          Takut akan perbuatannya itu, Ali mencari tali dan menggantung tubuhnya yang lusuh. Diapun tewas seketika. Wajahnya yang pucat karena tidak makan terlihat semakin pucat karena tubuhnya kini tidak lagi mengalir darah. Tiga mayat itu mati hampir bersamaan. Roh Ali telah pergi meninggalkan jasadnya menuju alam yang berbeda. Uang yang hendak dibelikannya obat itu jatuh dari sakunya, dua lembar uang seratus ribu itu jatuh melayang dan jatuh di bawah kakinya.

Minggu, 09 Juni 2013

laporan herbarium - Laboratorium Morfologi dan Taksonomi Tumbuhan Fakultas Pertanian USU



HERBARIUM
LAPORAN
Oleh :
MAYENDRA
120301147
AGROEKOTEKNOLOGI / 5A

Laporan  sebagai  salah  satu  syarat  untuk  dapat  mengikuti  Praktikal  Test  di  Laboratorium Morfologi dan Taksonomi Tumbuhan, Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan


Ditugaskan oleh :
Dosen Penanggung Jawab Laboratorium
(Ir. Ratna Rosanty Lahay, MP.)
NIP. 19631019 198903 2 002

Diketahui oleh :                                                               Diperiksa oleh :
Asisten Koordinator                                                         Asisten Korektor
(Abudzar Muharam Miraza)                                          (Muhammad Alghazali Adli)
            NIM. 080301081                                                                NIM. 100301094


LABORATORIUM MORFOLOGI DAN TAKSONOMI TUMBUHAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2012




Ageratum conyzoides L.
I.            Sistematika Bahan

Kingdom                       :    Plantae
Divisi                            :    Spermatophyta
Subdivisio                     :    Angiospermae
Kelas                             :    Dicotyledoneae
Ordo                             :    Asterales
Famili                            :    Compositae
Genus                            :    Ageratum
Spesies                          :    Ageratum conyzoides L.
                                           Bandotan (nama daerah)
II.           Morfologi Tumbuhan

a.    Akar
Akar Bandotan (Ageratum conyzoides L.) merupakan akar tunggang, perakarannya dangkal, sedikit dan tidak kuat sehingga mudah dicabut, akarnya berwarna putih kekuning-kuningan, terdapat sedikit bulu-bulu halus.

b.   Batang
Batang Bandotan (Ageratum conyzoides L.) tumbuh tegak. Buku-bukunya dan bagian batang yang lebih muda ditumbuhi rambut halus. Tingginya berkisar dari 25cm - 50cm, membentuk cabang. Pada ketiak daun tumbuh tunas yang membentuk cabang.

c.    Daun
Daun Bandotan (Ageratum conyzoides L.) berbentuk bulat telur. Bagian pangkal helai daun berbentuk bundar atau sedikit meruncing. Ujung helai daun berbentuk runcing atau agak tumpul. Ukuran helai daun 2-10 cm. tepi helai daun bergerigi atau berombak.

d.   Bunga
Bunga Bandotan (Ageratum conyzoides L.) merupakan kelompok kepala-bunga. Dalam satu kelopak terdiri dari tiga atau empat kepala-bunga. Masing-masing kepala bunga tumbuh pada tangkai sendiri. Terdiri dari 60-75 bunga yang tersusun (terbungkus) dalam daun pembalut (involocral-bract). Mahkota lima berwarna putih panjangnya 5-6 mm.





e.    Buah
Buah Bandotan (Ageratum conyzoides L.) berukuran kecil, hampir tidak menyerupai buah karena bagian dinding buah bersatu dengan biji, berwarna putih kehitam-hitaman.
f.     Biji
Biji Bandotan (Ageratum conyzoides L.) warnanya kehitam-hitaman..Kecil. Memiliki 5 papus (merupakan bulu) pada puncaknya. Ringan dan sangat banyak jumlahnya.

III.        Jalan Tabel

Gol 4. 41b, 42b, 43a, 44b, 45a, 46a ......   :  Compositae (Famili)
1b, 2b, 3b, 4b, 5b, 11b ..........................   :  Ageratum (Genus)
...............................................................   :  Ageratum conyzoides L. (Spesies)

IV.        Daftar Pustaka

Nasution, U. 1989. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Tanjung Morawa (PATM), Tanjung Morawa.   

Steenis, C. G. G. J. V. 2003. Flora. Cetakan 9. PT Pradnya Pramitha, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1953. Ilmu Tumbuh-tumbuhan Berbiji. Susunan Luar. IV. V. Poesaka Aseli, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan (Schozophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pterydophyta). Gadjah Mada University Aress, Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, G. 2001. Morfologi Tumbuhan. Cetakan 13. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

 

Asystasia intrusa Bl.
I.          Sistematika Bahan

Kingdom                :    Plantae
Divisi                     :    Spermatophyta
Subdivisio              :    Angiospermae
Kelas                      :    Dicotyledoneae
Ordo                      :    Acanthales
Famili                     :    Acanthaceae
Genus                     :    Asystasia
Spesies                   :    Asystasia intrusa Bl.
                                    Rumput Ganda Rusa (nama daerah)

II.       Morfologi Tumbuhan

a.         Akar
Akar Rumput Ganda Rusa (Asystasia intrusa Bl.) melekat pada cabang. Akarnya berakar tunggang. Akarnya memiliki bulu-bulu akar. Akarnya mempunyai cabang-cabang kecil. Akarnya memiliki serabut-serabut akar.

b.        Batang
Batang Rumput Ganda Rusa (Asystasia intrusa Bl.)  bercabang. Batang berwarna hijau, batangnya juga berkambium Batangnya tidak keras dan basah. Permukaan batangnya kasar.

c.         Daun
Daun Rumput Ganda Rusa (Asystasia intrusa Bl.) susunan tulang daun menjari. Tidak memiliki vagina sehingga termasuk daun tidak lengkap. Daunnyha juga merupakan daun tunggal. Daunnya mempunyai permukaan yang kasar. Tepi daun bergelombang dengan ujung daun runcing. Pertulangan daun menyirip. Daun berbentuk bulat telur dan tangkai daun 1-3 cm.

d.        Bunga
Bunga Rumput Ganda Rusa (Asystasia intrusa Bl.) berwarna putih dan ungu. Bunga mempunyai putik. Bunga memiliki kelopak. Bunga berada di ujung batang. Bunga berkelipatan 4 dan 5.

e.         Buah
Buah Rumput Ganda Rusa (Asystasia intrusa Bl.)  terletak di ujung batang. Buah berada dalam bunga. Buah berwarna hijau. Buahnya buah majemuk. Termasuk bakal buah yang menumpang.

f.          Biji
Biji Rumput Ganda Rusa (Asystasia intrusa Bl.) memiliki sepasang kotiledon. Bijinya mempunyai embrio. Bijinya berkeping dua. Bijinya berwarna kehijauan. Bijinya mengandung endosperm.

III.    Jalan Tabel

Gol 4. 41b, 42b, 43a, 44b, 45a, 46b, 47b .........   :  Acanthaceae (Famili)
1a, 2a, 3a, 4b......................................................   :  Asystasia (Genus)
...........................................................................   :  Asystasia intrusa Bl. (Spesies)
                                                                                                                         
IV.   Daftar Pustaka

 Nasution, U. 1989. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Tanjung Morawa (P4TM), Tanjung Morawa.      

Steenis, C. G. G. J. V. 2003. Flora. PT Pradnya Pramitha, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1953. Ilmu Tumbuh-tumbuhan Berbiji. Susunan Luar. IV. V. Poesaka Aseli, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan (Schozophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pterydophyta). Gadjah Mada University Aress, Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, g. 2001. Morfologi Tumbuhan. Cetakan 13. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


Cyperus rotundus L.
I.               Sistematika Bahan

          Kingdom                   :    Plantae
          Divisi                         :    Spermatophyta
          Subdivisio                  :    Angiospermae
          Kelas                        :    Monocotyledoneae
          Ordo                         :    Cyperales
          Famili                        :    Cyperaceae
          Genus                        :    Cyperus
          Spesies                      :    Cyperus rotundus L.
                                                Teki (nama daerah)
                                                                  
II.           Morfologi Tumbuhan

a.        Akar
Akar teki (Cyperus rotundus L.) tumbuh dari pangkal batang. Akar teki tumbuh menahun. Akar teki   berupa rimpang di bawah tanah. Akar teki memiliki serabut akar (radix adventica). Akar teki bersatu kuat dengan rumput lain.

b.        Batang
Batang teki (Cyperus rotundus L.) tegak berbentuk segitiga. Berongga kecil dan agak lunak. Tinggi 10-20 cm. penampangnya 1-2 mm. membentuk umbi di pangkal batang. Membentuk rimpang panjang yang dapat membentuk tunas baru.

c.         Daun
Daun teki (Cyperus rotundus L.) memiliki helain daun yang kaku membentuk garis. Tidak berambut. Warna permukaan atas hijau tua sedangkan permukaan bawah hijau muda. Mempunyai parit yang membujur di bagian tengah. Ujungnya agak runcing.

d.        Bunga
Bunga teki (Cyperus rotundus L.) memiliki bulir yang longgar. Terbentuk di ujung batang. Bractea dua sampai empat. Tidak rontok. Bercabang utama tiga sampai sembilan yang menyebar.

e.        Buah
Buah teki (Cyperus rotundus L.)  berbulir halus. Buah teki memiliki bentuk gepeng. Buah teki memiliki sekam yang berwarna coklat. Buah teki memiliki panjang 1 - 3 cm. Buah teki memiliki punggung kehijauan dan sisik coklat.

f.          Biji
Biji teki (Cyperus rotundus L.) berupa biji - biji halus. Biji teki berukuran lebih kecil daripada buah teki. Biji teki berwarna hijau ketika buah teki masih muda. Biji teki mengandung sekam - sekam halus. Biji teki akan jatuh ketika berwarna coklat.

III.        Jalan Tabel

          1b, 2b, 3b, 4a, 5b ................................ :    Cyperaceae (Famili)
          1b, 2b, 3a ............................................ :    Cyperus (Genus)
          ............................................................. :    Cyperus rotundus L. (Spesies)

IV.         Daftar Pustaka

Nasution, U. 1989. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Tanjung Morawa (P4TM), Tanjung Morawa.          

Steenis, C. G. G. J. V. 2003. Flora. PT Pradnya Pramitha, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1953. Ilmu Tumbuh-tumbuhan Berbiji. Susunan Luar. IV. V. Poesaka Aseli, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan (Schozophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pterydophyta). Gadjah Mada University Aress, Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, g. 2001. Morfologi Tumbuhan. Cetakan 13. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Eleusine indica (L.) Gaertn.
I.          Sistematika Bahan

Kingdom                 :    Plantae
Divisi                       :    Spermatophyta
Subdivisio               :    Angiospermae
Kelas                      :    Monocotyledoneae
Ordo                       :    Graminales
Famili                      :    Graminae
Genus                     :    Eleusine
Spesies                   :    Eleusine indica (L.) Gaertn.
                                    Rumput belulang  (nama daerah)

II.      Morfologi Tumbuhan

a.         Akar
Akar Rumput Belulang (Eleusine indica (L.) Gaertn.) memiliki system perakaran serabut. Akar rumput membentuk tali halus. Akar serabut yang kecil-kecil memiliki percabangan yang sangat banyak, selain itu juga memiliki bulu yang halus.

b.         Batang
Batang Rumput Belulang (Eleusine indica (L.) Gaertn.) membentuk rumpun yang kokoh dengan perakaran yang lebat. Tumbuh tegak atau ada kalanya merambat. Membentuk cabang. Sering membentuk akar pada buku terbawah. Tingginya 12-85 cm.

c.         Daun
Daun Rumput Belulang (Eleusine indica (L.) Gaertn.) memiliki helai daun panjang. Bentuk garis. Bagian pangkal tidak menyempit. Ujungnya runcing atau tegak tumpul. Pada pangkalnya selalu terdapat beberapa rambut panjang.

d.         Bunga
Bunga Rumput Belulang (Eleusine indica (L.) Gaertn.) tegak atau condong ke samping. Dengan dua sampai tujuh bulir yang tumbuh menjari (digitatus) pada ujung batang. Bulir lainnya (nol sampai tujuh) tumbuh di bawah atau tersebar atau rapat satu sama lain. Sumbu bulir lurus dan rata-rata 2,5-15 cm panjangnya. Muncul di ujung batang.




e.         Buah
Buah Rumput Belulang (Eleusine indica (L.) Gaertn.) berbentuk elips meruncing. Benang sarinya berwarna kekunung-kuningan. Mempunyai rambut-rambut papus putih menyerupai perak. Buah sangat ringan. Memiliki putik.

f.          Biji
Biji Rumput Belulang (Eleusine indica (L.) Gaertn.) berwarna putih. Biji berbentuk bulat seperti telur. Biji tidak keras. Biji ringan. Biji tua berwarna kuning kecoklatan.

III.   Jalan Tabel

  1b, 2b, 3b, 4a, 5a .............................................. :Graminae (Famili)
  1b, 2a, 3b, 5b, 6b, 9b, 10b, 12b, 13b, 15b, 16a :Eleusine  (Genus)
                                                                              :Eleusine indica (L.) Gaertn. (Spesies)

IV.    Daftar Pustaka

Nasution, U. 1989. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Tanjung Morawa (PATM), Tanjung Morawa.

Steenis, C. G. G. J. V. 2003. Flora. PT Pradnya Pramitha, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1953. Ilmu Tumbuh-tumbuhan Berbiji. Susunan Luar. IV. V. Poesaka Aseli, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan (Schozophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pterydophyta). Gadjah Mada University Aress, Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, g. 2001. Morfologi Tumbuhan. Cetakan 13. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

 
Euphorbia hirta L.
I.             Sistematika Bahan

Kingdom            :     Plantae
Divisi                  :     Spermatophyta
Subdivisio          :     Angiospermae
Kelas                  :     Dicotyledoneae
Ordo                   :     Euphorbiales
Famili                 :     Euphorbiaceae
Genus                 :     Euphorbia
Spesies               :     Euphorbia hirta L.
                                 Patikan Kebo (nama daerah)

II.          Morfologi Tumbuhan

a.      Akar
Akar Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) merupakan akar  tunggang yang ditumbuhi bulu-bulu halus pada percabangannya. Memiliki serabut akar pada lehernya. Dan tumbuh memanjang ke dalam tanah namun tidak terlalu panjang.

b.      Batang
Batang Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) tumbuh tegak atau bagian pangkal melengkung dan merayap di permukaan tanah. Membentuk cabang dekat pangkal batang. Ditumbuhi rambut-rambut halus atau batang muda. Warnanya bercorak kemerah-merahan atau ungu. Susunan daun berhadapan.

c.       Daun
Daun Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) memiliki helai daun berbentuk bulat panjang. Ujungnya agak runcing. Bagian pangkal membulat sebelah dan tidak simetris. Ukuran panjang 0,5-5 cm dan lebar 0,25-2,5 cm. tepi daun bergerigi.

d.      Bunga
Bunga Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) tumbuh satu sampai dua tangkai perbungaan dari ketiak daun. Perbungaan berbentuk bulat agak padat panjangnya 1 cm. panjang tangkai 4-15 mm. warnanya bercorak merah keungu-unguan. Berbentuk kapsul dengan tiga tonjolan bulat.

e.       Buah
Buah Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) berukuran kecil. Ditumbuhi rambut halus. Buah berukuran 1 1/4 mm tingginya. Berbentuk kapsul dengan tiga tonjolan bulat. Berwarna merah – coklat.
f.       Biji
Biji Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) berwarna merah kecoklatan. Berukuran kecil. Tergolong dalam biji terbuka. Memiliki 2 lapisan kulit biji. Memiliki 2 daun lembaga. Dan berkecambah secara hypogael.

III.       Jalan Tabel

1b, 2b, 4b, 6a, 34b, 37a ......................... :    Euphorbiaceae (Famili)
1b, 2a ..................................................... :    Euphorbia (Genus)
1b, 2b, 3b, 4b .................................... .... :    Euphorbia hirta L. (Spesies)

IV.       Daftar Pustaka

Nasution, U. 1989. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Tanjung Morawa (PATM), Tanjung Morawa.   

Steenis, C. G. G. J. V. 2003. Flora. PT Pradnya Pramitha, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1953. Ilmu Tumbuh-tumbuhan Berbiji. Susunan Luar. IV. V. Poesaka Aseli, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan (Schozophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pterydophyta). Gadjah Mada University Aress, Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, G. 2001. Morfologi Tumbuhan. Cetakan 13. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Nephrolepis biserrata Schott.
I.          Sistematika Bahan

Kingdom         :    Plantae
Divisi              :    Pterydophyta
Kelas               :    Pteridopsida
Ordo               :    Polypodiales
Famili              :    Polypodiaceae
Genus              :    Nephrolepis
Spesies            :    Nephrolepis biserrata Schott.
                             Paku Harupat (nama daerah)

II.      Morfologi Tumbuhan

a.         Akar
Akar Paku Harupat (Nephrolepis biserrata Schott.) bercabang banyak. Berwarna hijau muda. Berada di dalam tanah. Kalau menyentuh tanah mengeluarkan akar. Rimpang menyerap atau menjalar.

b.        Batang
Batang Paku Harupat (Nephrolepis biserrata Schott.) tidak berbuku. Permukaan batang licin. Batangnya tumbuh tegak. Tumbuh terlentang. Batangnya keras.

c.         Daun
Daun Paku Harupat (Nephrolepis biserrata Schott.) berdaun rapat. Helaian daun umumnya melengkung. Bentuknya lanset. Pangkalnya berbentuk baji. Urat daun sejajar.


III.   Jalan Tabel

1a,(Gol 1)17b,18b,19b,22b,23b,24b,25b,26b ... : 11. Polypodiaceae (Famili)
1b,5b,10b,11a ................................................... : Nephrolepis (Genus)
1b, 2b ................................................................ : Nephrolepis biserrata Schott. (Spesies)

IV.   Daftar Pustaka

Nasution, U. 1989. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Tanjung Morawa (P4TM), Tanjung Morawa.    

Steenis, C. G. G. J. V. 2003. Flora. PT Pradnya Pramitha, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1953. Ilmu Tumbuh-tumbuhan Berbiji. Susunan Luar. IV. V. Poesaka Aseli, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan (Schozophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pterydophyta). Gadjah Mada University Aress, Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, G. 2001. Morfologi Tumbuhan. Cetakan 13. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


Paspalum conjugatum Berg.
I.             Sistematika Bahan

Kingdom         :     Plantae
Divisi               :     Spermatophyta
Subdivisio       :     Angiospermae
Kelas               :     Monocotyledoneae
Ordo                :     Poales
Famili              :     Gramineae
Genus              :     Paspalum
Spesies            :     Paspalum conjugatum Berg.
                              Jukut Pahit (nama daerah)

II.          Morfologi Tumbuhan

a.      Akar
Akar Jukut Pahit (Paspalum conjugatum Berg.) merupakan akar serabut (radix adventica) yang halus. Berwarna putih hingga kekuning-kuningan dengan arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop) mencapai 20 cm di dalam tanah. Selain itu, akar terbentuk seperti benang (filiformis) serta tidak memiliki ruas-ruas dan tudung akar (calyptra).

b.      Batang
Batang Jukut Pahit (Paspalum conjugatum Berg.) agak pipih (phyllocladium) dengan tinggi 20-75 cm, serta tidak berbulu. Warnanya hijau bercorak ungu, tumbuh tegak (erectus) dan termasuk batang rumput (calmus). Permukaan batang berusuk (costatus) dimana terdapat rigi-rigi yang membujur.

c.       Daun
Daun Jukut Pahit (Paspalum conjugatum Berg.) memiliki helai daun berbentuk pita (ligulatus) dengan ujung daun runcing (acutus). Serta berbulu di sepanjang tepinya dan pada permukannya. Pangkal daun membulat (rotundatus), dengan panjang daun berkisar 2,5-37,5 cm dan lebar 6-16 mm. Selain itu, tepi daun tampak berombak (repandus).

d.      Bunga
Bunga Jukut Pahit (Paspalum conjugatum Berg.) termasuk tumbuhan berbunga tunggal (planta uniflora) yang tumbuh pada ujung batang (flos terminalis). Selain itu, ibu tangkai bunga tidak bercabang-cabang, sehingga bunga langsung terdapat pada ibu tangkainya.

e.    Buah
Buah Jukut Pahit (Paspalum conjugatum Berg.) berupa bulir yang berukuran sangat kecil, berjumlah 2-18 bulir yang dudk saling berjauhan. Bulir pada satu sisi panjangnya mencapai 1,5-10 cm. Poros bulir berlunas. Dan anak bulir dikedua belah sisi dari lunas berjumlah 1-2 baris. Bulir-bulir ini akan rontok secara bersamaan.

f.       Biji
Biji Jukut Pahit (Paspalum conjugatum Berg.) berukuran sangat kecil dan hanya berjumlah satu pada ruangnya.

III.       Jalan Tabel

1b, 2a, 3b. 4a, 5b ........................................ : Gramineae (Family)
1b, 2b, 3a, 5b, 6b, 9b, 10b, 12b, 13a, 14a ..   :   Paspalum ( Genus )
11................................................................ : Paspalum conjugatum Berg.(Spesies)

IV.        Daftar Pustaka

Nasution, U. 1989. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Karet Sumatera Utara dan Aceh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Tanjung Morawa (PATM), Tanjung Morawa.   

Steenis, C. G. G. J. V. 2003. Flora. PT Pradnya Pramitha, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1953. Ilmu Tumbuh-tumbuhan Berbiji. Susunan Luar. IV. V. Poesaka Aseli, Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan (Schozophyta, Thallophyta, Bryophyta, Pterydophyta). Gadjah Mada University Aress, Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, G. 2001. Morfologi Tumbuhan. Cetakan 13. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.