Hallooo perkenalkan saya fhu....

Selasa, 27 Agustus 2013

Cerpen : Mimpi dan Gadis



Matahari belum belum lagi beranjak dari atas kepala. Peluh siswa – siswi disuatu sekolah keluar dari pori – pori, menetes kelantai seperti air hujan. Sementara di luar sana, adzan pertanda sholat zuhur akan masuk mulai berkumandang, siswa – siswi yang tadi penat mulai berlarian seperti dikejar gemuruh atau tsunami.

            Tepat pukul 14.15 WIB, bel tanda siswa – siswi harus meninggalkan sekolahpun berbunyi. Para siswa yang mendengar makin senang pula hatinya. Hiruk – pikuknya terdengar bak orang – orang di pasar. Lima belas sampai dua puluh menit berlalu, sekolah nan gagah itu kembali sepi, jauh dari keramain orang, tidak seperti dua puluh menit yang lalu. Bisa dikatakan sama dengan sunyinya hutan belantara, yang terdengar hanyalah nyanyian burung – burung dan ngauman harimau lapar.

            Dari kejauhan nampak seorang diri yang berjalan mengikuti jalan hitam, menyandang tas, membawa buku dan berkacamata. Anak yang terus berjalan tanpa melihat sekitarnya, hanya pandangan lurus dan terus menelusuri gang demi gang.

            Di sebuah perempatan jalan, anak itu berhenti sejenak di sebuah warung. Warung tua nan lusuh itu menjual berbagai barang. Anak itu kepalanya begerak kekiri lalu kekanan, seperti ada yang dicarinya. Dari dalam keluar seorang wanita tua sembari menawarkan miuman segar. Siswa yang sedang kehausan itu tanpa berpikir panjang mengiyakan tawaran wanita tua itu.

            Di atas meja yang berisi kue – kue, Fatan melihat Koran pagi tadi, tanpa berpikir panjang Koran itu diambilnya dan dibacanya berita paling baru. Ya… sebuah berita yang berjudul “Kecelakaan Maut, Seorang Gadis Tidak Ditemukan” yang menjadi topik semua koran hari ini. Dibacanya berita itu sampai habis. Anak itu merasakan kengerian yang dalam. Selesai membaca berita itu, dia pulang dengan sejuta pemikiran tentang gadis yang hlang setelah kecelakaan itu.

            “ Assalamu’alaikum…” salam anak itu pada ibunya. Anak yang kelihatan lesu, dikarenakan cuaca yang begitu panas.Es yang baru saja dikeluarkan ibunya sudah meleleh seperti cucuran atap. Anak yang kelelahan itu, hanya bisa pasrah dengan keadaan. Dalam hatinya dia berkata “ aku rasa aku lebih baik tidur, sembari melepas penat. Lagian jika hari sepanas ini aku beraktivitas, rasanya aku mau pingsan…”. Kemudian, dia menelusuri rumahnya hendak mencari sesuatu. Tidak menungg lama akhirnya dia menemukan apa yang dicarinya. Tempat tidur.

            Suara burung – burung diluar sana menambah kenyamanan untuk tidur disiang hari yang panas ini. Ditambah lagi dengan AC yang menyejukkan ruangan. Hati serasa berada di tumpukan es yang terus mendinginkan tubuh. Apalagi udara yang meniup hawa segarnya kian kemari.

            Anak muda yang berkacamata itu, dia sering dipanggil Fatan. Dia begitu menikmati tidurnya dan dia lelap dalam tidurnya tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya. Tiba – tiba dia melihat sesosok tubuh berdiri di depannya. Ternyata sesosok tubuh itu adalah seorang gadis yang dia sendiri tidak tahu siapa gadis itu. Fatan terkejut bukan kepayang saat melihat gadis itu, dia heran dari mana dia datang.

Dalam kamar yang tidak besar itu, Fatan yang sepertinya penasaran dengan kehadiran gadis itu, dia pun mengikuti gadis itu yang pergi entah kemana. Sambil dia berjalan dia bertanya pada gadis itu, “ maaf, kamu siapa ya… ada urusan apa datang kekamarku !”. Gadis yang mendengar perkataan itu hanya membalas dengan senyuman yang membuat Fatan semakin penasaran, anehnya semakin Fatan penasaran semakin kencang Gadis itu berjalan. Gadis itu terus berjalan dan mengajak Fatan seperti ada yang hendak ditunjukkannya.

            Di luar sana, matahari terus bersinar sembari perlahan turun hendak menutupi bumi Indonesia bagian barat dengan kegelapan. Dalam pikiran Fatan,  tidak  ada dia merasakan cemas dan tidak pula  khawatir saat dia mengikuti gadis itu. Fatan masuk kedalam terowongan yang gelap. Sangat gelap. Seperti di tengah hutan yang tidak ada cahaya bulan.

            Sedikit lagi. Fatan yang pasrah akan keadaan, dia yang harus mengikuti langkah Gadis itu. Dia terus berjalan. Di ujung sana dia melihat ada cahaya putih yang lama – kelamaan terang seperti cahaya bulan purnama.

            Gadis itu berhenti pada mulut terowongan dan menunjukkan pada Fatan apa yang ada di bawah terowongan itu. Fatan yang lugu dan tidak tahu apa – apa, sontak terkejut dan beristighfar melihat apa yang dilihatnya. Jasad orang yang dilihatnya begitu mirip dengan gadis yang berada di sampingnya, Sementara itu dia melihat orang – orang yang lumayan jauh dari jasad itu sedang sibuk mencari dimana jasad itu. Gadis itu menatap tajam Fatan, Fatan terheran dengan mulutnya merapat. Keras. “Apa maumu? mengapa aku di sini,” bentaknya. Gadis itu diam, diam seribu bahasa. Fatan yang sudah letih dan takut, hanya diam dan pasrah melihat itu.

            Keheningan senja di bumi melayu,membuat siapapun terlena. Sementara matahari sudah hilang dari bumi melayu, Gadis itu pergi menelusuri terowongan yang gelap itu. Fatan yang penuh keheranan, membuka matanya dan terbangun dari tidurnya. Adzan maghrib telah terdengar di seluruh penjuru melayu. Dalam pikirannya, dia berpikir “ternyata hanya mimpi yang aku alami barusan… syukurlah,”.

            Tidak terasa malam yang sunyi begitu cepat berganti dengan pagi yang cerah. Fatan telah bangun dari tadi, dan telah siap untuk ke sekolah. Dalam perjalanan, dia teringat dengan mimpinya dan mengaitkan dengan kecelakaan maut yang dibacanya kemarin. “Apa mungkin ya, gadis itu yang hilang, kalau iya mengapa dia datang padaku” katanya dalam hati.

            Dalam perjalanannya dia terus berpikir dan berpikir, tidak ada yang dipikirkannya selain mimpi dan gadis itu.

            Di sebuah persimpangan menuju sekolahnya, dia berhenti sejenak. Dia berpikir. Dalam lima menit dia langsung pergi kearah berlawanan dari sekolahnya. Sesampai di sebuah gedung, Fatan langsung masuk dan mencari ruangan yang ditujunya. Dalam sekejap keluar orang yang dicarinya. Kemudian dia menceritakan apa yang dia alami. Setelah panjang lebar bercakap – cakap, Fatan mengucap salam perpisahan pada orang itu. “Baiklah Pak, hanya informasi itu yang saya tahu, Assalamu’alaikum…” katanya sambil melangkah keluar. “Terima kasih ya atas informasinya, Wa’alaikumsalam” jawab orang itu yang ternyata seorang polisi.

            Fatan melangkahkan kakinya ke sekolah dan bernyanyi – nyanyi menandakan hatinya kini senang. “Sudah tidak ada beban lagi …” pikirnya dalam hati. Sementara itu, pagi yang cerah masih tersenyum menyapa semua orang. Di langit Fatan merasakan senyuman gadis yang ia lihat. Fatanpun tersenyum lebar.

Senin, 19 Agustus 2013

Cerpen Baru : 200 Ribu Ali


“Mak, sandainya engkau masih hidup, mungkin nasib anakmu ini tidak seburuk ini mak. Ali sudah capek hidup terlantar mak,...”adu seseorang yang berpakaian lusuh, kotor di depan makam yang tidakterwat. Pakaiannya menandakan dia bukanlah orang yang biasa. Ya, dia adalah orang yang kurang mampu dan hidup hanya di bawah kardus-kardus yang ia dapatkan ditepi jalan dan tong sampah.
          Hari itu,sehari setelah ia ziarah pemakaman ibunya,yang tak pernah ia tahu bagaimana bentuk dan rupa ibunya itu. Ia hanya tahu berdasarkan cerita kerabat dan tetangganya dahulu. Sekarang dia sudah tidak lagi tinggal di rumah yang nyaman, bahkan untuk makan saja harus bekerja dahulu.
          Ia selalu ingat akan pesan guru ngajinya dulu, walaupun hidup sesusah apapun pastilah Allah membantunya. Allah itu tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan dari kita. Nasehat ini selalu diingatnya betul, sehingga dia tidak pernah mencuri, apalagi mengemis. Baginya mengemis itu sangat rendah, dia tak pernah berpikir untuk mengemis. Daripada mengemis, dia lebih baik mencuri, itu sedikit ada usahanya.
          Pernah saat dia sedang istirahat di bawah pelataran toko yang sedang tutup, dia diberi uang oleh orang yang lewat. Tapi uang itu di antarnya kembali dan berterimakasih kepada orang itu karena telah ikhlas memberi walaupun tidak diminta. Tetapi dia juga memarahi orang itu karena pengemis seharusnya tidak diberi uang dengan cara yang begitu.
          Pagi ini suhu kota sangat dingin. Pemuda yang bernama Ali itu batuk-batuk dan tandanya penyakitnya kambuh lagi. Dia menderita penyakit batuk-batuk sejak lama, tapi apalah daya dia tidak pernah berobat. Dia berniat untuk mengumpulkan uang terlebih dahulu agar bisa berobat di Puskesmas ataupun di klinik, tapi jangankan terkumpul uang itu malahan habiskarena keperluan lain seperti uang sewa  tempat tinggalnya.
          “Ya Allah, ampunilah dosa hambamu ini,dan dosa kedua orangtua hamba ....”Pintanya selalu sehabis menunaikan ibadah solat,entah di mesjid atau di pinggir jalan selalu dia solat jika waktunya telah masuk.
          “Bocah-bocah, gak sadar apa! Udah hidupnya ngemis begitu, sok-sok meminta yang bukan-bukan...”
          “Bapak kenapa selalu meledek saya, saya tidak pernah ngemis pak. Bapakkan selalu saya larang ngemis, tapi masih saja tak mau kan? Edan emang bapak...”
          “Alah, kamu... Kayak mana anu, uang yang kamu simpan? Sudah segunung? Hahahaha....”
          “Halah-halah, bapak kenapa tak henti-hentinya ngeledek saya ha..... baru 78 ribu pak, kemaren itu aku tanya sama perawat di puskesmas, harga obat aku itu 190 ribu pak. Masih banyak kurangnya.”
          “Aku ada sedikit nih, 30 ribu aja tapi. Ini lebih uang kemaren ngemis di simpang empat jalan pattimura sana. Ambil nih,”
          “Gak mau ah pak, uang ngemis bapak kan? Udahlah untuk bapak aja. Saya gak mau makan uang ngemis pak, bapak kan udah tahu saya anti sama kerjaan bapak. Masih aja nawari saya. Oh iya pak, saya mau nyuci piring di rumah makan padang yang di depan, saya pergi dulu ya...”
          “Ya udah, pergi aja lah, gak usah pamitan segala. Kayak benar aja...”cemooh orang yang dipanggil Ali bapak itu, beranjak juga dari tempat persitirahatannya hendak bergegas meraup untung dari para pemberi nafkah di jalanan.
          Ali mulai berjalan menuju tempat dia bekerja, walaupun hanya sebatas pencuci piring rumah makan dadakan. Dia bekerja kalau dipanggil saja. Itupun seminggu paling banyak tiga kali kerja disana. Dengan upah sebesar dua puluh ribu seharian, memang tidak begitu banyak untuk menyimpan uang.
          Di pinggir jalan yang sering dia lalui, ada rumah kecil dipagari kayu dan bambu, dia tidak pernah melihat siapa yang tinggal di dalam sana. Dulu dua tahun yang lalu dia pernah melihat anak kecil yang lumpuh yang duduk di kursi roda sendirian. Anak itu kena sinar matahari, kulitnya memerah. Karena iba Ali mendorong anak itu masuk ke rumah dan memanggil ibunya. Bukan ibunya yang keluar, tapi seorang laki-laki tua yang marah besar.
          “Dia nakal, dia ngompol di kasur saya. Ngapai kamu bawak dia ke dalam. Itu bukan urusan kamu, dasar pengemis tidak tahu diri! Pergi sana!”hardiknya pada Ali waktu itu. “Tapi pak, dia kasihan, liat tu mukanya merah. Dia kenapa pak?”basa-basiku sebelum meninggalkan rumah itu.
          “Dia, cucuku. Kamu gak ada urusan sama dia. Dia cuman lumpuh. Gak perlu dikasihani,...”
          Semenjak hari itu dia tidak pernah lagi masuk dan melihat bapak dengan cucunya yang lumpuh itu. Tapi terkadang di malam hari, dia sesekali pernah juga melihat dari luar orang di dlam sana.
          Walaupun hidup sendiri, tapi penghasilan tetap saja tidak cukup. Jangankan untuk beli obat yang telah lama ia inginkan, untuk melengkapi kebutuhan makannya saja sudah pas-pasan. Terlebih lagi adanya preman yang mintak uang keamanan karena tinggal di daerah mereka. Memprihatinkan memang, tapi mau bagaimana lagi memang begitulah hidup.
          Dua bulan berlalu, uang yang terkumpul sudah dua ratus ribu. Udah berlebih untuk beli obatnya. Uang itu dia kumpulkan sampai-sampai dia tidak makan dua hari. Tapi dia senang karena uang itu telah cukup. Besok dia akan membeli obat sebagaimana yang dokter sarankan padanya.
          Malam itu sangat dingin, seperti biasanya jika dingin dia akan batuk dan nafasnya sesak. Hujan deras mengguyur kota. Rumah kardusnya itu lembab, walau tidak sampai basah. Dia terus mengucapkan istighfar dan mencoba tenang. Angin-angin yang datang di malam hari membawa suhu dingin yang menusuk ke tulang. Sementara itu di malam itu kesibukan kota yang merajalela tidak terhenti karena hujan dan badai.
          Dengan lebatnya hujan, semakin gelap juga pandangan mata Ali. Dzikir tak henti-hentinya dia ucapkan. Tiba-tiba terbayang di benaknya wajah ibunya, walaupun tidak tahu persis seperti apa rupanya. Dia teringat kalau tetangganya bilang kalau dia masih punya nenek di kampung. Tapi dia sendiri tidak pernah tahu dari mana asalnya dan dimana kampungnya itu.
          Petir mulai menyambar, angin segera berhenti dan hujan bertambah deras. Lalu mata Ali yang hitam itu tertutup dan dia tidak sadar lagi. Esoknya dia bangun, di tangannya masih ada uang dua ratus ribu yang akan dia belikan obat. Tapi dia baru sadar kalau ternyata rumah kardusnya telah hancur dilenyap badai semalam. Dia tidak tahu dan mungkin dia tertidur pulas saat itu.
          “Kamu nak Ali kan?”
          “Iya, kenapa mas?”
          “Anu, saya Jali. Sepertinya kamu kenal sama bapak-bapak yang tinggal di rumah dekat bank sana, yang pagarnya bambu itu. Tadi anaknya sakit lagi, dia nyuruh saya manggil kamu. Udah ya saya pamit dulu...”
          “Oh, ya ya mas, makasi ya mas”
          “Cepetan kesana, ditungguin...”
          “Iya, saya kesana,”
          Ali heran, kenapa bapak itu minta dia datang kerumahnya dan anaknya sakit? Apa hubungannya dengan dia? Ali semakin bingung. “Entahlah.... Mungkin ini panggilan untuk saya,”
Pagi itu memang hari yang cerah, juga baik untuk menolong, begitu pikiran Ali yang selalu berprasangka baik.
          “permisi pak, ada apa ya pak?”
          “kamu yang datang kenari tempo lalu kan?”
          “Iya, memangnya kenapa? Saya ada salah?”
          “Tidak-tidak, saya kan sudah tua. Saya tidak punya keluarga selain anak penyakitan ini, saya besok mau cabut aja dari sini. Saya ingin kamu ambil aja ni anak lumpuh. Mau kan?”
          “Loh, kenapa begitu pak? Dia kan anak bapak. Kenapa ditinggal? Sebetulnya bapak mau keman?”
          “Saya mau pergi ke neraka, hahaha.... saya mau mati saja! Hidup seperti ini tidak enak. Besok saya mau pergi, bawalah anak lumpuh ini. besok pemilik rumah ini akan menagih uang kontrakan, sebelum dia datang saya dan anak lumpuh ini harus tidak disini lagi. Biar gratis gitu,”
          “Saya gak mau lah pak. Lagian ngapain pakai mau bunuh diri? Apa gak kasian sama ni anak.”
          “Udahlah. Saya pergi dulu, ini bawak dia tersrah mau kemana, mau dibunuh juga gak apa-apa.”
          “Tega sekali bapak! Saya tidak mau membawa anak lumpuh ini!”
          “Ya sudah, biar saja dia tinggal disini, biar mati aja dia disini,”
          “Pak, bapak punya parang di belakang pak? Boleh saya pinjam sebentar?”
          “Ada, ambil saja. Untuk apa?”
          “Ambilkan saja ya pak, sebentar saja.”
          Bapak itu pergi kebelakang dan mengambil parang. Sementara itu Ali mendekati anak yang lumpuh itu. Menatapnya dalam-dalam. Lalu membisikkan di telinganya, “kamu anak yang malang...”. tangannya yang berbulu itu melingkar di leher anak itu dan tangannya mulai mencekik hingga anak malang itu tidak bisa bernafas dan akhirnya mati.
          “Ini parangnya,...”
          “Gunanya untuk ini pak,”
          Ali memukulkan parang itu ke kepala Bapak itu, dan sebentar saja bapak itu pingsan dan mati juga. Entah apa yang ada di benak ali saat itu. Tiba-tiba dia tega membunnuh, padahal dia pernah bepikiran seperti itu sebelumnya.
          Takut akan perbuatannya itu, Ali mencari tali dan menggantung tubuhnya yang lusuh. Diapun tewas seketika. Wajahnya yang pucat karena tidak makan terlihat semakin pucat karena tubuhnya kini tidak lagi mengalir darah. Tiga mayat itu mati hampir bersamaan. Roh Ali telah pergi meninggalkan jasadnya menuju alam yang berbeda. Uang yang hendak dibelikannya obat itu jatuh dari sakunya, dua lembar uang seratus ribu itu jatuh melayang dan jatuh di bawah kakinya.

Cerpen Baru : 200 Ribu Ali



“Mak, sandainya engkau masih hidup, mungkin nasib anakmu ini tidak seburuk ini mak. Ali sudah capek hidup terlantar mak,...”adu seseorang yang berpakaian lusuh, kotor di depan makam yang tidakterwat. Pakaiannya menandakan dia bukanlah orang yang biasa. Ya, dia adalah orang yang kurang mampu dan hidup hanya di bawah kardus-kardus yang ia dapatkan ditepi jalan dan tong sampah.
          Hari itu,sehari setelah ia ziarah pemakaman ibunya,yang tak pernah ia tahu bagaimana bentuk dan rupa ibunya itu. Ia hanya tahu berdasarkan cerita kerabat dan tetangganya dahulu. Sekarang dia sudah tidak lagi tinggal di rumah yang nyaman, bahkan untuk makan saja harus bekerja dahulu.
          Ia selalu ingat akan pesan guru ngajinya dulu, walaupun hidup sesusah apapun pastilah Allah membantunya. Allah itu tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan dari kita. Nasehat ini selalu diingatnya betul, sehingga dia tidak pernah mencuri, apalagi mengemis. Baginya mengemis itu sangat rendah, dia tak pernah berpikir untuk mengemis. Daripada mengemis, dia lebih baik mencuri, itu sedikit ada usahanya.
          Pernah saat dia sedang istirahat di bawah pelataran toko yang sedang tutup, dia diberi uang oleh orang yang lewat. Tapi uang itu di antarnya kembali dan berterimakasih kepada orang itu karena telah ikhlas memberi walaupun tidak diminta. Tetapi dia juga memarahi orang itu karena pengemis seharusnya tidak diberi uang dengan cara yang begitu.
          Pagi ini suhu kota sangat dingin. Pemuda yang bernama Ali itu batuk-batuk dan tandanya penyakitnya kambuh lagi. Dia menderita penyakit batuk-batuk sejak lama, tapi apalah daya dia tidak pernah berobat. Dia berniat untuk mengumpulkan uang terlebih dahulu agar bisa berobat di Puskesmas ataupun di klinik, tapi jangankan terkumpul uang itu malahan habiskarena keperluan lain seperti uang sewa  tempat tinggalnya.
          “Ya Allah, ampunilah dosa hambamu ini,dan dosa kedua orangtua hamba ....”Pintanya selalu sehabis menunaikan ibadah solat,entah di mesjid atau di pinggir jalan selalu dia solat jika waktunya telah masuk.
          “Bocah-bocah, gak sadar apa! Udah hidupnya ngemis begitu, sok-sok meminta yang bukan-bukan...”
          “Bapak kenapa selalu meledek saya, saya tidak pernah ngemis pak. Bapakkan selalu saya larang ngemis, tapi masih saja tak mau kan? Edan emang bapak...”
          “Alah, kamu... Kayak mana anu, uang yang kamu simpan? Sudah segunung? Hahahaha....”
          “Halah-halah, bapak kenapa tak henti-hentinya ngeledek saya ha..... baru 78 ribu pak, kemaren itu aku tanya sama perawat di puskesmas, harga obat aku itu 190 ribu pak. Masih banyak kurangnya.”
          “Aku ada sedikit nih, 30 ribu aja tapi. Ini lebih uang kemaren ngemis di simpang empat jalan pattimura sana. Ambil nih,”
          “Gak mau ah pak, uang ngemis bapak kan? Udahlah untuk bapak aja. Saya gak mau makan uang ngemis pak, bapak kan udah tahu saya anti sama kerjaan bapak. Masih aja nawari saya. Oh iya pak, saya mau nyuci piring di rumah makan padang yang di depan, saya pergi dulu ya...”
          “Ya udah, pergi aja lah, gak usah pamitan segala. Kayak benar aja...”cemooh orang yang dipanggil Ali bapak itu, beranjak juga dari tempat persitirahatannya hendak bergegas meraup untung dari para pemberi nafkah di jalanan.
          Ali mulai berjalan menuju tempat dia bekerja, walaupun hanya sebatas pencuci piring rumah makan dadakan. Dia bekerja kalau dipanggil saja. Itupun seminggu paling banyak tiga kali kerja disana. Dengan upah sebesar dua puluh ribu seharian, memang tidak begitu banyak untuk menyimpan uang.
          Di pinggir jalan yang sering dia lalui, ada rumah kecil dipagari kayu dan bambu, dia tidak pernah melihat siapa yang tinggal di dalam sana. Dulu dua tahun yang lalu dia pernah melihat anak kecil yang lumpuh yang duduk di kursi roda sendirian. Anak itu kena sinar matahari, kulitnya memerah. Karena iba Ali mendorong anak itu masuk ke rumah dan memanggil ibunya. Bukan ibunya yang keluar, tapi seorang laki-laki tua yang marah besar.
          “Dia nakal, dia ngompol di kasur saya. Ngapai kamu bawak dia ke dalam. Itu bukan urusan kamu, dasar pengemis tidak tahu diri! Pergi sana!”hardiknya pada Ali waktu itu. “Tapi pak, dia kasihan, liat tu mukanya merah. Dia kenapa pak?”basa-basiku sebelum meninggalkan rumah itu.
          “Dia, cucuku. Kamu gak ada urusan sama dia. Dia cuman lumpuh. Gak perlu dikasihani,...”
          Semenjak hari itu dia tidak pernah lagi masuk dan melihat bapak dengan cucunya yang lumpuh itu. Tapi terkadang di malam hari, dia sesekali pernah juga melihat dari luar orang di dlam sana.
          Walaupun hidup sendiri, tapi penghasilan tetap saja tidak cukup. Jangankan untuk beli obat yang telah lama ia inginkan, untuk melengkapi kebutuhan makannya saja sudah pas-pasan. Terlebih lagi adanya preman yang mintak uang keamanan karena tinggal di daerah mereka. Memprihatinkan memang, tapi mau bagaimana lagi memang begitulah hidup.
          Dua bulan berlalu, uang yang terkumpul sudah dua ratus ribu. Udah berlebih untuk beli obatnya. Uang itu dia kumpulkan sampai-sampai dia tidak makan dua hari. Tapi dia senang karena uang itu telah cukup. Besok dia akan membeli obat sebagaimana yang dokter sarankan padanya.
          Malam itu sangat dingin, seperti biasanya jika dingin dia akan batuk dan nafasnya sesak. Hujan deras mengguyur kota. Rumah kardusnya itu lembab, walau tidak sampai basah. Dia terus mengucapkan istighfar dan mencoba tenang. Angin-angin yang datang di malam hari membawa suhu dingin yang menusuk ke tulang. Sementara itu di malam itu kesibukan kota yang merajalela tidak terhenti karena hujan dan badai.
          Dengan lebatnya hujan, semakin gelap juga pandangan mata Ali. Dzikir tak henti-hentinya dia ucapkan. Tiba-tiba terbayang di benaknya wajah ibunya, walaupun tidak tahu persis seperti apa rupanya. Dia teringat kalau tetangganya bilang kalau dia masih punya nenek di kampung. Tapi dia sendiri tidak pernah tahu dari mana asalnya dan dimana kampungnya itu.
          Petir mulai menyambar, angin segera berhenti dan hujan bertambah deras. Lalu mata Ali yang hitam itu tertutup dan dia tidak sadar lagi. Esoknya dia bangun, di tangannya masih ada uang dua ratus ribu yang akan dia belikan obat. Tapi dia baru sadar kalau ternyata rumah kardusnya telah hancur dilenyap badai semalam. Dia tidak tahu dan mungkin dia tertidur pulas saat itu.
          “Kamu nak Ali kan?”
          “Iya, kenapa mas?”
          “Anu, saya Jali. Sepertinya kamu kenal sama bapak-bapak yang tinggal di rumah dekat bank sana, yang pagarnya bambu itu. Tadi anaknya sakit lagi, dia nyuruh saya manggil kamu. Udah ya saya pamit dulu...”
          “Oh, ya ya mas, makasi ya mas”
          “Cepetan kesana, ditungguin...”
          “Iya, saya kesana,”
          Ali heran, kenapa bapak itu minta dia datang kerumahnya dan anaknya sakit? Apa hubungannya dengan dia? Ali semakin bingung. “Entahlah.... Mungkin ini panggilan untuk saya,”
Pagi itu memang hari yang cerah, juga baik untuk menolong, begitu pikiran Ali yang selalu berprasangka baik.
          “permisi pak, ada apa ya pak?”
          “kamu yang datang kenari tempo lalu kan?”
          “Iya, memangnya kenapa? Saya ada salah?”
          “Tidak-tidak, saya kan sudah tua. Saya tidak punya keluarga selain anak penyakitan ini, saya besok mau cabut aja dari sini. Saya ingin kamu ambil aja ni anak lumpuh. Mau kan?”
          “Loh, kenapa begitu pak? Dia kan anak bapak. Kenapa ditinggal? Sebetulnya bapak mau keman?”
          “Saya mau pergi ke neraka, hahaha.... saya mau mati saja! Hidup seperti ini tidak enak. Besok saya mau pergi, bawalah anak lumpuh ini. besok pemilik rumah ini akan menagih uang kontrakan, sebelum dia datang saya dan anak lumpuh ini harus tidak disini lagi. Biar gratis gitu,”
          “Saya gak mau lah pak. Lagian ngapain pakai mau bunuh diri? Apa gak kasian sama ni anak.”
          “Udahlah. Saya pergi dulu, ini bawak dia tersrah mau kemana, mau dibunuh juga gak apa-apa.”
          “Tega sekali bapak! Saya tidak mau membawa anak lumpuh ini!”
          “Ya sudah, biar saja dia tinggal disini, biar mati aja dia disini,”
          “Pak, bapak punya parang di belakang pak? Boleh saya pinjam sebentar?”
          “Ada, ambil saja. Untuk apa?”
          “Ambilkan saja ya pak, sebentar saja.”
          Bapak itu pergi kebelakang dan mengambil parang. Sementara itu Ali mendekati anak yang lumpuh itu. Menatapnya dalam-dalam. Lalu membisikkan di telinganya, “kamu anak yang malang...”. tangannya yang berbulu itu melingkar di leher anak itu dan tangannya mulai mencekik hingga anak malang itu tidak bisa bernafas dan akhirnya mati.
          “Ini parangnya,...”
          “Gunanya untuk ini pak,”
          Ali memukulkan parang itu ke kepala Bapak itu, dan sebentar saja bapak itu pingsan dan mati juga. Entah apa yang ada di benak ali saat itu. Tiba-tiba dia tega membunnuh, padahal dia pernah bepikiran seperti itu sebelumnya.
          Takut akan perbuatannya itu, Ali mencari tali dan menggantung tubuhnya yang lusuh. Diapun tewas seketika. Wajahnya yang pucat karena tidak makan terlihat semakin pucat karena tubuhnya kini tidak lagi mengalir darah. Tiga mayat itu mati hampir bersamaan. Roh Ali telah pergi meninggalkan jasadnya menuju alam yang berbeda. Uang yang hendak dibelikannya obat itu jatuh dari sakunya, dua lembar uang seratus ribu itu jatuh melayang dan jatuh di bawah kakinya.