Hallooo perkenalkan saya fhu....

Rabu, 15 Agustus 2018

Cerpen : 200 Ribu Ali


200 Ribu  Ali


         “Mak, sandainya engkau masih hidup, mungkin nasib anakmu ini tidak seburuk ini mak. Ali sudah capek hidup terlantar mak,...”adu seseorang yang berpakaian lusuh, kotor di depan makam yang tidakterwat. Pakaiannya menandakan dia bukanlah orang yang biasa. Ya, dia adalah orang yang kurang mampu dan hidup hanya di bawah kardus-kardus yang ia dapatkan ditepi jalan dan tong sampah.
         Hari itu,sehari setelah ia ziarah pemakaman ibunya,yang tak pernah ia tahu bagaimana bentuk dan rupa ibunya itu. Ia hanya tahu berdasarkan cerita kerabat dan tetangganya dahulu. Sekarang dia sudah tidak lagi tinggal di rumah yang nyaman, bahkan untuk makan saja harus bekerja dahulu.
         Ia selalu ingat akan pesan guru ngajinya dulu, walaupun hidup sesusah apapun pastilah Allah membantunya. Allah itu tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan dari kita. Nasehat ini selalu diingatnya betul, sehingga dia tidak pernah mencuri, apalagi mengemis. Baginya mengemis itu sangat rendah, dia tak pernah berpikir untuk mengemis. Daripada mengemis, dia lebih baik mencuri, itu sedikit ada usahanya.
         Pernah saat dia sedang istirahat di bawah pelataran toko yang sedang tutup, dia diberi uang oleh orang yang lewat. Tapi uang itu di antarnya kembali dan berterimakasih kepada orang itu karena telah ikhlas memberi walaupun tidak diminta. Tetapi dia juga memarahi orang itu karena pengemis seharusnya tidak diberi uang dengan cara yang begitu.
         Pagi ini suhu kota sangat dingin. Pemuda yang bernama Ali itu batuk-batuk dan tandanya penyakitnya kambuh lagi. Dia menderita penyakit batuk-batuk sejak lama, tapi apalah daya dia tidak pernah berobat. Dia berniat untuk mengumpulkan uang terlebih dahulu agar bisa berobat di Puskesmas ataupun di klinik, tapi jangankan terkumpul uang itu malahan habiskarena keperluan lain seperti uang sewa  tempat tinggalnya.
         “Ya Allah, ampunilah dosa hambamu ini,dan dosa kedua orangtua hamba ....”Pintanya selalu sehabis menunaikan ibadah solat,entah di mesjid atau di pinggir jalan selalu dia solat jika waktunya telah masuk.
         “Bocah-bocah, gak sadar apa! Udah hidupnya ngemis begitu, sok-sok meminta yang bukan-bukan...”
         “Bapak kenapa selalu meledek saya, saya tidak pernah ngemis pak. Bapakkan selalu saya larang ngemis, tapi masih saja tak mau kan? Edan emang bapak...”
         “Alah, kamu... Kayak mana anu, uang yang kamu simpan? Sudah segunung? Hahahaha....”
         “Halah-halah, bapak kenapa tak henti-hentinya ngeledek saya ha..... baru 78 ribu pak, kemaren itu aku tanya sama perawat di puskesmas, harga obat aku itu 190 ribu pak. Masih banyak kurangnya.”
         “Aku ada sedikit nih, 30 ribu aja tapi. Ini lebih uang kemaren ngemis di simpang empat jalan pattimura sana. Ambil nih,”
         “Gak mau ah pak, uang ngemis bapak kan? Udahlah untuk bapak aja. Saya gak mau makan uang ngemis pak, bapak kan udah tahu saya anti sama kerjaan bapak. Masih aja nawari saya. Oh iya pak, saya mau nyuci piring di rumah makan padang yang di depan, saya pergi dulu ya...”
         “Ya udah, pergi aja lah, gak usah pamitan segala. Kayak benar aja...”cemooh orang yang dipanggil Ali bapak itu, beranjak juga dari tempat persitirahatannya hendak bergegas meraup untung dari para pemberi nafkah di jalanan.
         Ali mulai berjalan menuju tempat dia bekerja, walaupun hanya sebatas pencuci piring rumah makan dadakan. Dia bekerja kalau dipanggil saja. Itupun seminggu paling banyak tiga kali kerja disana. Dengan upah sebesar dua puluh ribu seharian, memang tidak begitu banyak untuk menyimpan uang.
         Di pinggir jalan yang sering dia lalui, ada rumah kecil dipagari kayu dan bambu, dia tidak pernah melihat siapa yang tinggal di dalam sana. Dulu dua tahun yang lalu dia pernah melihat anak kecil yang lumpuh yang duduk di kursi roda sendirian. Anak itu kena sinar matahari, kulitnya memerah. Karena iba Ali mendorong anak itu masuk ke rumah dan memanggil ibunya. Bukan ibunya yang keluar, tapi seorang laki-laki tua yang marah besar.
         “Dia nakal, dia ngompol di kasur saya. Ngapai kamu bawak dia ke dalam. Itu bukan urusan kamu, dasar pengemis tidak tahu diri! Pergi sana!”hardiknya pada Ali waktu itu. “Tapi pak, dia kasihan, liat tu mukanya merah. Dia kenapa pak?”basa-basiku sebelum meninggalkan rumah itu.
         “Dia, cucuku. Kamu gak ada urusan sama dia. Dia cuman lumpuh. Gak perlu dikasihani,...”
         Semenjak hari itu dia tidak pernah lagi masuk dan melihat bapak dengan cucunya yang lumpuh itu. Tapi terkadang di malam hari, dia sesekali pernah juga melihat dari luar orang di dlam sana.
         Walaupun hidup sendiri, tapi penghasilan tetap saja tidak cukup. Jangankan untuk beli obat yang telah lama ia inginkan, untuk melengkapi kebutuhan makannya saja sudah pas-pasan. Terlebih lagi adanya preman yang mintak uang keamanan karena tinggal di daerah mereka. Memprihatinkan memang, tapi mau bagaimana lagi memang begitulah hidup.
         Dua bulan berlalu, uang yang terkumpul sudah dua ratus ribu. Udah berlebih untuk beli obatnya. Uang itu dia kumpulkan sampai-sampai dia tidak makan dua hari. Tapi dia senang karena uang itu telah cukup. Besok dia akan membeli obat sebagaimana yang dokter sarankan padanya.
         Malam itu sangat dingin, seperti biasanya jika dingin dia akan batuk dan nafasnya sesak. Hujan deras mengguyur kota. Rumah kardusnya itu lembab, walau tidak sampai basah. Dia terus mengucapkan istighfar dan mencoba tenang. Angin-angin yang datang di malam hari membawa suhu dingin yang menusuk ke tulang. Sementara itu di malam itu kesibukan kota yang merajalela tidak terhenti karena hujan dan badai.
         Dengan lebatnya hujan, semakin gelap juga pandangan mata Ali. Dzikir tak henti-hentinya dia ucapkan. Tiba-tiba terbayang di benaknya wajah ibunya, walaupun tidak tahu persis seperti apa rupanya. Dia teringat kalau tetangganya bilang kalau dia masih punya nenek di kampung. Tapi dia sendiri tidak pernah tahu dari mana asalnya dan dimana kampungnya itu.
         Petir mulai menyambar, angin segera berhenti dan hujan bertambah deras. Lalu mata Ali yang hitam itu tertutup dan dia tidak sadar lagi. Esoknya dia bangun, di tangannya masih ada uang dua ratus ribu yang akan dia belikan obat. Tapi dia baru sadar kalau ternyata rumah kardusnya telah hancur dilenyap badai semalam. Dia tidak tahu dan mungkin dia tertidur pulas saat itu.
         “Kamu nak Ali kan?”
         “Iya, kenapa mas?”
         “Anu, saya Jali. Sepertinya kamu kenal sama bapak-bapak yang tinggal di rumah dekat bank sana, yang pagarnya bambu itu. Tadi anaknya sakit lagi, dia nyuruh saya manggil kamu. Udah ya saya pamit dulu...”
         “Oh, ya ya mas, makasi ya mas”
         “Cepetan kesana, ditungguin...”
         “Iya, saya kesana,”
         Ali heran, kenapa bapak itu minta dia datang kerumahnya dan anaknya sakit? Apa hubungannya dengan dia? Ali semakin bingung. “Entahlah.... Mungkin ini panggilan untuk saya,”
Pagi itu memang hari yang cerah, juga baik untuk menolong, begitu pikiran Ali yang selalu berprasangka baik.
         “permisi pak, ada apa ya pak?”
         “kamu yang datang kenari tempo lalu kan?”
         “Iya, memangnya kenapa? Saya ada salah?”
         “Tidak-tidak, saya kan sudah tua. Saya tidak punya keluarga selain anak penyakitan ini, saya besok mau cabut aja dari sini. Saya ingin kamu ambil aja ni anak lumpuh. Mau kan?”
         “Loh, kenapa begitu pak? Dia kan cucu bapak. Kenapa ditinggal? Sebetulnya bapak mau kemana?”
         “Saya mau pergi .... saya mau mati saja! Hidup seperti ini tidak enak. Besok saya mau pergi, bawalah anak lumpuh ini. Besok pemilik rumah ini akan menagih uang kontrakan, sebelum dia datang saya dan anak lumpuh ini harus tidak disini lagi. Biar gratis gitu,”
         “Saya gak mau lah pak. Lagian ngapain pakai mau bunuh diri? Apa gak kasian sama ni anak.”
         “Udahlah. Saya pergi dulu, ini bawak dia tersrah mau kemana, mau dibunuh juga gak apa-apa.”
         “Tega sekali bapak! Saya tidak mau membawa anak lumpuh ini!”
         “Ya sudah, biar saja dia tinggal disini, biar mati aja dia disini,”
         “Pak, bapak punya parang di belakang pak? Boleh saya pinjam sebentar?”
         “Ada, ambil saja. Untuk apa?”
         “Ambilkan saja ya pak, sebentar saja.”
         Bapak itu pergi kebelakang dan mengambil parang. Sementara itu Ali mendekati anak yang lumpuh itu. Menatapnya dalam-dalam. Lalu membisikkan di telinganya, “kamu anak yang malang...”. tangannya yang berbulu itu melingkar di leher anak itu dan tangannya mulai mencekik hingga anak malang itu tidak bisa bernafas dan akhirnya mati.
         “Ini parangnya,...”
         “Gunanya untuk ini pak,”
         Ali memukulkan parang itu ke kepala Bapak itu, dan sebentar saja bapak itu pingsan dan mati juga. Entah apa yang ada di benak ali saat itu. Tiba-tiba dia tega membunnuh, padahal dia pernah bepikiran seperti itu sebelumnya.
         Takut akan perbuatannya itu, Ali mencari tali dan menggantung tubuhnya yang lusuh. Diapun tewas seketika. Wajahnya yang pucat karena tidak makan terlihat semakin pucat karena tubuhnya kini tidak lagi mengalir darah. Tiga mayat itu mati hampir bersamaan. Roh Ali telah pergi meninggalkan jasadnya menuju alam yang berbeda. Uang yang hendak dibelikannya obat itu jatuh dari sakunya, dua lembar uang seratus ribu itu jatuh melayang dan jatuh di bawah kakinya.

Rabu, 04 September 2013

Sebuah coretan saja ~~.........




Aduh, capek!
Mungkin kata ini nggak boleh aku ucapin,
Bukankah itu masih satu atau dua kata?
Sudah beribu kata yang kuucapkan,
Padahal tak sepantasnya itu aku ucapkan.
source : google
Lagi males, nanti aja...
Lagi-lagi ini menyiksa sebenarnya.
Bagaimana tidak, harus menuruti nafsu...
Sudahlah, memang itu kemampuan kita...
Waw, ini sungguh pesimistis!
Membuang usaha,
Dan juga tenaga.
Aku harus mengejar cintanya?
Masuk akal nggak sih?
Bagiku itu enggak!
Aneh, menggelikan tahu...
Tanpamu aku tak bisa hidup?
Sadarlah, apa guna ibu?
Aduh, capek!
Selalu saja terucap,
Tapi benarkan?
Semua di dunia ini membuat capek,
Source : google
Dan nyari makan juga?
Jangan maunya makan aja!
Hidup itu untuk makan?
Aduh capek!
Capek?
Capek?
Hm... Mati sajalah.......

Selasa, 03 September 2013

Cerpen : Bidadari di Lau Kawar


Danau Lau Kawar

          “Ka, ka, kamu?” katanya heran dan terkejut melihat aku. Dan akupun begitu.
          “Kamu? Bukankah kamu yang ada di...”
          “Iya... “
          “Ada apa dengan ini?”
...oOo...
          “Wah, dingiiiiiiiiiiiin...” ekspresiku saat tiba di kota brastagi. Ya. Saat ini aku jalan-jalan kekota tanah karo ini, hal itu dikarenakan aku akan berkuliah di kota besar Medan. Jadi, sebelum masuk kuliah, aku diajak Ayah jalan-jalan ke Brastagi. Kaca jendela mobil yang awalnya tertutup aku buka dan aku keluarkan tangan agar dapat merasakan angin yang dingin masuk kedalam sel-sel kulit. Hamparan ladang sayur dan buah jeruk terpampang di sebelah kiri dan kananjalan. Pemandangan itu membuatku kagum akan kuasa Tuhan. Subhanallah ucapku.
          Ayah yang sedang menyetir mobil, sesekali bercerita tentang daerah ini padaku dan adikku. Sedangkan Ibuku sibuk dengan bayinya yang juga adikku itu menangis dari Medan tadi dia memang tidak suka dibawa-bawa. Capek melambai-lambaikan tangan, tiba-tiba suasana mobil diam, si bayi juga turut diam. Tiba-tiba suasana diam tadi pecah oleh suara Ayah, “Bagaimana kalau kita ke danau Lau kawar? Itu dekat dengan gunung sinabung.”
          “Boleh Yah, ibu juga belum pernah kesana,”
          “Terserah aja,  Abang sih nurut aja. Iya kan dek? Hehehe...”
          “Tapi besok-besok ajak ke danau toba ya Yah, adek kan belum pernah kesana,”
          “Ayah juga belum pernah, kapan-kapan kita kesana ya,”
          “horeee, ....”
          Laju mobil ditambah. Udara semakin dingin terasa masuk kedalam kulit, menusuk tulang yang putih. Walaupun hampir tengh hari, tapi karena cuaca berawan dan sehabis hujan membuat udara semakin dingin dan cahaya matahari tidak terasa panasnya. Tampak kokoh gunung sinabung yang sebagian atasnya tertutupi awan. Di kiri jalan kadang ada parit yang mengalir air segar. Sedangkan di sebelah kanan ada petani yang sedang membersihkan ladang sayurnya, ada juga yang sedang memanen, dan ada juga yang sedang menyiram.
          “Kita sudah sampai,”
          “Wah,wah,wah, Abang sampai ketiduran nih, gak asyik Ayah gak banguni Abang.”
          “Abang aja yang dari tadi dibanguni, gak bangun-bangun.”
          “Hehehehe... “
          “Bu, kita bentang tikar disana aja dekat pohon itu, kalian kalau mau main pergi aja, kami disini saja. Tapi hati-hati ya,nanti ada naga besar yang memakan kalian, lalu kalian dimuntahkan,”
          “Hmm, Abang udah kuliah yah, itu cerita untuk adek, hahaha...”
          “Dek, jangan ikuti Abang ya,”
          “Siapa juga yang mau ikut,”
          Mendengar kata adekku ini, aku tidak mau kehilangan kesempatan. Dia selalu saja ingin tahu urusanku. Untunglah sekarang dia tidak bersamaku. Aku pergi ke pinggiran danau. Kurasakan air itu, waw.. dingin. Sangat dingin. Sedang asyik duduk di batu, aku di kejutkan oleh suara cewek dari arah belakang.
          Bak melihat bidadari, aku terus melihatnya tanpa mengedipkan mata. Aku seakan terbawa kedalam mimpi, dimana aku sedang berdua dengannya di sebuah taman. Kami tertawa dan menyanyikan lagu cinta. Lalu, lalu eh dia mendekatiku. Dan , dan , dan ... Apa? Dia tidak ke arahku? Dia membelokkan arahnya ke kanan, dia berjalan menyusuri tepian danau.
          Sendirian? Aku harus menemaninya, kesempatan langka nih bisikku pada danau yang tak berdosa, hahaha. Aku pura-pura menyusuri tepian danau, dan bidadari itu masih tetap berjalan. Terkadan berhenti sebentar dan jalan lagi. Dan saat tiba di bangku, dia duduk. Aku cepatkan langkahku agar cepat sampai ke tempat sang bidadari.
          Aku telah sampai di dekatnya, tapi aku belum membuka pembicaraan dan aku masih berdiri di jarak 2 meter dari dia, sang bidadari. Aku bingung, apa yang harus aku katakan untuk memulai pembicaraan. Apakah dengan hei, dompetmu jatuh. Padahal dompetnya tidak jatuh. Hai,boleh kenalan? Dikira aku sksd.
          Tapi, tidak perlu berpikir lama. Tiba-tiba saja aku mengeluarkan suara, “keren ya pemandangannya. Seandainya saja bisa berlama-lama disini.” Mendengar ucapanku itu, dia seperti terkejut, dan menoleh ke arahku.
          “Eh, hai...”
          “Hai, aku mengganggu kamu ya? Maaf tadi aku sedikit keceplosan, hehehe aku sangat sangat suka dengan pemandangan ini, maaf ya,”
          “Apaan sih, ya gak lah, aku hanya terkejut ada orang di belakangku. Mari duduk di sini. Ngapai berdiri disana, kan capek.”
          Alhamdulillah, berhasil bisikku dalam hati. Tak akan ku sia-siakan dan aku tanpa ada pemikiran panjang langsung ubah posisi dari berdiri dan sekarang duduk di samping bidadari. Dia tersenyum padaku, ku balas senyuman itu.
          “Sebelumnya kamu sudah pernah kesini?” tanyanya padaku.
          “Belum, baru kali ini. kamu?
          “Aku gak tahu kenapa, aku tiap bulan datang kesini. Ya aku rindu aja sama danau ini.”
          “Bisa ya kayak gitu, gak bosan kesini terus?”
          “Kayaknya aku gak pernah bosan deh, buktinya aku selalu datang, ya kan?”
          “Iya juga sih, kok bisa ya?”
          “Mungkin karena aku yang suka alam, tapi entahlah, aku selalu ingin ke tempat ini.”
          “Atau jangan-jangan ada yang mau dilihat nggak? Hehehe”
          “Ha... apaan sih, tapi mungkin benar juga. Dulu aku sering datang dengan mantan aku, tempat ini selalu mengingatkanku.”
          “wah, sudah jadi mantan ya, gak perlu dipikirkan lagilah,”
          Setelah kalimtku itu, dia diam. Diam seribu bahasa. Aku kebingungan. Aku juga turut diam. Mungkin ikan-ikan di danau itu menertawakanku karena tidak bisa lagi membuka pembicaraan. Dan mungkin juga naga yang diceritakan ayah tadi bersiap-siap memakanku.
          “Kok kamu sendirian?”
          “apa?”
          “Kok kamu sendirian?”
          “Oh, teman-teman aku sibuk disana, aku sih gak suka ikut-ikutan,”
          “Kenapa? Kan asyik,”
          “Sudahlah, biarkan aja,”
          “Kamu tahu kalau kamu seperti...”
          “Seperti apa? Kok nggak dilanjutin?”
          “Seperti... seperti... seperti seorang gadis yang duduk di tepi danau,”
          “Haha... kan aku memang lagi duduk di tepi danau, kamu ada-ada aja. Lebih lengkapnya aku seperti seorang gadis yang duduk di tepi danau lau kawar yang disampingku ada seorang laki-laki yang menggangguku untuk berdiam diri. Lebih panjang kan?”
          “Aku mengganggumu?”
          “O.. enggak kok,aku kan bercanda aja,”
          “Haha....”
          “Ahahaha.....”
          Sempurna. Kami telah menyatu. Kami masuk kedalam dunia kami. Tidak ada yang mengganggu. Bahkan udara dingin tidak terasa lagi. Yang ada hanyalah ucapan yang seperti syair-syair cinta. Aku telah jatuh hati padanya, pada pandangan pertama. Padahal aku belum kenal namanya. Asalnyadan dimana tinggalnya. Apakah dia sudah kuliah apa masih sekolah. Semuanya lupa karena kami sedang dalam dunia fantasi kami. Dan melupakan segalanya.
          Dari kejauhan ku lihat Ayah memanggil, dan kami harus berpisah. Oh tidak, aku akan berpisah dengan bidadari. Padahal masih banyak yang ingin kami bicarakan. Tapi karena waktu, kami memang harus berpisah.
          “Maaf ya, aku udah dipanggil Ayahku, mungkin kami mau balek,”
          “Oh iya iya, hati-hati ya...”
          Aku bergegas pergi. Setelah agak jauh dari dia, aku sadar kalau aku belum tahu namanya dan bodohnya aku tidak meminta nomor handphonenya. Sambil melambaikan tangan aku teriak ke arahnya,”Hei, kita belum kenalan, siapa namamu?” Dia menoleh. Tapi hanya tersenyum saja. Mungkin dia tidak dengar. Sudahlah, pikirku. Bukankah tiap bulan dia datang kesini.
          Saat aku hendak melanjutkan jalanku, aku melihat ada benda seperti mainan tas. Oh ternyata memang mainan tas, unik dan berharga sepertinya. Pastilah si pemiliknya sangat kehilangan. Tak ku abaikan, mainan itu aku ambil. Dan akan aku letakkan di tas kesayanganku. Padahal tasku cuman satu.hehehe.
          “Itu siapa?”
          “Nggak tahu Yah,” jawabku singkat. Karena aku bodoh dan benar-benar tidak tahu dia siapa. Tidak menanyakan nama sebelum berbicara.
          “Mari kita pulang...”
...oOo...
          “Kami berangkat ya Bang,”
          “Iya Yah,Bu,Dek, hati-hati ya, kalau sudah sampai di Pekanbaru telpon ya ...”
          “sip, hati-hati kuliahnya, rajin-rajin belajar ya...”
          Tinggallah aku seorang diri di kamar 3x4 meter. Besok sudahmasuk kuliah. Hari pertamaku kuliah, dan hari pertamaku juga tinggal seorang diri. Ternyata memang agak-agak menyedihkan menjadi anak kos. Dulu aku sering mengejek kawanku yang ngekos. Ternyata beginilah nasibnya. Selalu sendiri.
          “Apa? Sudah jam tujuh? Wah nanti aku terlambat lagi ke kampus.” Hari pertama aku ke kampus benar-benar apes. Sudahlah terlambat bangun. Aku lupa dimaana kelas. Dan aku tidak tahu harus makan dimana.
          Walaupun senior-senior pada galak semua, aku harus tetap berani masuk kampus. Tapi tetap aja aku takut. Sampai di gerbang aku mencari teman sewaktu ospek, mana tahu jumpa. Tapi tidak seorangpun yang aku kenal. Lama menunggu, aku harus beranikan diri untuk bertanya. Setelah lama bertanya sana kemari, dapatlahkelasku yang ternyata dosennya telah masuk, dan aku kebagian duduk paling belakang.
          Ada seorang cewek, juga terlambat. Dan duduk dibelakangku. Kasihan dia duduk paling belakang, ingin aku menyuruhnya duduk di tempatku saja, tapi ku urungkan niat itu. Dan kuliah dimulai, dan bla bla bla dosen menerangkan tentang kampus ini, tentang kuliahnya dan tentang apa yang harus kami lakukan selaku mahasiswa.
          Dan, telah satu setengah jam kami duduk mendengar dosen memberikan materi. Tibalah saatnya kami istirahat. Tapi sebelum keluar ada senior yangmasuk dan marah-marah gak jelas segala macamnya. Dan sebagai junior yang baik hati dan tidak sombong kami harus mendengar dan mengiyakan apa yang dikatakan mereka.
          Dan dan dan, selesai sudah senior itu. Aku keluar kelas. Hendak menuju kantin. Karena belum dapat teman, ya harus sendiri. Aku lewat lorong kelas yang gelap. Sepertinya seram. Padahal aku hanya seorang saja, tapi aku mendengar gerak langkah di belakangku. Mengikutiku. Membuatku takut. Tapi ada suara yang menyuruhku untuk berhenti.
          “Hai, tunggu aku, ada yang ingin aku tanya.”
          “Iya? Apa?” saat itu aku tidak menoleh padanya, dan aku masih berjalan tapi pelan.
          “Mainan tasmu, darimana kamu mendapatkannya?”
          Aku menoleh kebelakang dan langsung tidak percaya, dengan siapa aku bicara. Aku merasakan ada angin segar dari brastagi datang menghampiriku.
          “Ka, ka, kamu?” katanya heran dan terkejut melihat aku. Dan akupun begitu.
          “Kamu? Bukankah kamu yang ada di...”
          “Iya... “
          “Ada apa dengan ini?”
          “Oh iya, mainan ini kamu dapat dimana? Ini terlihat seperti punyaku, aku lupa menaruhnya dimana.”
          “Aku mendapatkannya di danau kemaren itu, ini ambillah. Mungkin ini sangat berharga bagimu,”
          “Iya, ini sangat sangat sangat sangat berharga bagiku. Makasih ya telah membawanya untukku, kamu tahu aku mencarinya kemana-mana.” Dan kamipun melanjutkan cerita kami yang belum sempat kami ceritakan di Danau Lau kawar. Dan aku melihat ada bunga yang akan mekar esok pagi. Lalu, bunga itu mati dan tumbuh kembali di musim yang berbeda. Lalu ada cahay bidadari yang datang dan membawa bunga-bunga lalu menaburnya di dalam hatiku.